Banyak orang bilang usia 50 adalah waktunya melambat. Waktunya memaklumi perut yang mulai membuncit, nafas yang makin pendek, atau lutut yang mulai sering protes. Tapi bagi saya, usia 50 justru menjadi garis start untuk restorasi diri.
Dulu berat badan saya pernah ±130 kg. Bayangkan, dengan tinggi 175 cm, saya membawa beban ekstra yang luar biasa setiap harinya. Baju ukuran jumbo pun terasa sesak. Sampai akhirnya, pandemi 2020 datang dan memberi saya tamparan keras: Sehat itu nggak bisa ditunda.
Pelajaran dari Masa Lalu: Kurus Saja Ternyata Nggak Cukup
Saya pernah melakukan diet yang sangat ekstrem. Turun sampai 79 kg! Bahagia? Awalnya iya. Tapi ternyata, karena cuma makan tempe dan kurma tanpa strategi yang benar, saya kehilangan massa otot. Tubuh jadi lemas dan wajah terlihat cekung. Di situlah saya belajar bahwa tujuan kita bukan cuma "kurus", tapi "sehat dan kuat".
Sekarang, di usia 50, saat berat saya sempat naik lagi ke 95 kg, saya nggak mau mengulangi kesalahan yang sama. Saya punya strategi baru yang jauh lebih asyik: Puasa 36 Jam dan Gowes.
Kenapa Puasa 36 Jam?
Banyak yang kaget, "Emang kuat nggak makan 36 jam?"
Kuncinya adalah niat dan bertahap. Saya melakukannya dua kali seminggu, Senin dan Kamis. Saya gabungkan dengan puasa sunnah agar dapat pahalanya dan dapat sehatnya. Di jam-jam puasa ini, tubuh saya melakukan "bersih-bersih" sel secara otomatis (istilah kerennya autofagi).
Kuncinya adalah niat dan bertahap. Saya melakukannya dua kali seminggu, Senin dan Kamis. Saya gabungkan dengan puasa sunnah agar dapat pahalanya dan dapat sehatnya. Di jam-jam puasa ini, tubuh saya melakukan "bersih-bersih" sel secara otomatis (istilah kerennya autofagi).
Rasanya? Memang ada pusing di jam ke-24, tapi dengan sedikit trik air hangat dan garam Himalaya, semua teratasi. Ini bukan soal menyiksa diri, tapi memberi waktu buat organ tubuh beristirahat total.
Gowes: Booster Pembakar Lemak
Nah, ini rahasia kecil saya. Di jam ke-34 puasa, saat lemak cadangan sedang siap-siap dibakar, saya naik sepeda. Cukup gowes santai (Zona 2) selama 45 menit. Rasanya luar biasa! Badan kerasa enteng banget karena yang dibakar murni lemak cadangan kita. Setelah itu, saya berbuka dengan 2 telur rebus. Simpel, murah, tapi proteinnya juara buat jaga otot.
Bukan Berarti Nggak Bisa Makan Enak!
Hidup harus seimbang. Di akhir pekan, saya tetap long ride 2-3 jam bareng teman-teman komunitas. Kita mampir sarapan, makan pisang rebus, umbi-umbian, bahkan gorengan satu-dua biji sebagai "bonus" pergaulan. Karena saya sudah "tabungan" puasa di hari Senin dan Kamis, makan enak di akhir pekan jadi nggak bikin merasa bersalah.
Pesan Saya Buat Anda yang Usia 50+
Kalau saya yang pernah 130 kg saja bisa, Anda juga pasti bisa. Jangan kejar berat badan turun drastis dalam semalam. Kejar konsistensi. Jaga otot dengan angkat beban ringan, jaga jantung dengan gowes, dan bersihkan sel tubuh dengan puasa.
Investasi terbaik di usia 50 bukan lagi soal berapa banyak saldo di bank, tapi seberapa kuat kaki kita mengayuh pedal dan seberapa sehat tubuh kita untuk menikmati masa tua nanti.
Yuk, mulai hidup sehat sekarang. Jangan tunggu besok, apalagi tunggu sakit!
Bersambung...