23 Februari 2009

Sarjana dan Intelektual

Selama ini, pengertian sarjana selalu disetarakan dengan intelektual. Seseorang dinilai sebagai intelektual diukur berdasarkan gelar-gelar tertentu atau ijazah akademik. Padahal, kualitas individu seorang sarjana berbeda dengan seorang intelektual. Peran seorang inteletual juga berbeda jauh dengan seorang sarjana. Oleh karena itu, kita perlu memberikan batasan yang jelas pengertian sarjana dan intelektual.


Sarjana
Dapatkah para sarjana disetarakan dengan kaum intelektual? Harus diakui bahwa selama ini keberadaan para sarjana masih disetarakan dengan kaum intelektual. Akibatnya, definisi intelektual sendiri menjadi dangkal, karena ukurannya hanya sebatas gelar akademik atau secarik ijazah. Ironisnya, jika para sarjana disetarakan dengan kaum intelektual, mengapa mereka harus menganggur?

Para sarjana adalah lulusan akademik atau perguruan tinggi yang menempuh jenjang studi berdasarkan spesifikasi jurusan masing-masing. Seorang sarjana tehnik elektro seharusnya menguasai bidang peralatan-peralatan elektronik. Seorang sarjana sosial seharusnya menguasai berbagai teori sosial yang diharapkan dapat bermanfaat manakala telah terjun ke dalam masyarakat. Sayangnya, spesifikasi jurusan atau basic keilmuan semacam ini hanya menyempitkan wawasan pengetahuan dan cara pandang mereka terhadap kehidupan riil sehari-hari. Akibatnya, seorang sarjana bakal kewalahan ketika harus berhadapan dengan problem kehidupan yang jauh dari spesifikasinya.

Sistem pendidikan yang berlaku di lingkungan akademik atau perguruan tinggi masih belum berorientasi pada usaha menumbuh karakter dan mental yang kreatif. Proses edukatif kurang lebih masih seperti “gaya bank” (banking concept of education). Akibatnya, para lulusan perguruan tinggi tidak memiliki daya kreativitas yang dapat diandalkan sehingga mereka cenderung menunggu lowongan kerja, bukannya menciptakan lapangan kerja sendiri.

Sebagai produk dari proses pendidikan formal, status para sarjana harus mendapat legalitas berupa secarik ijazah. Logika formal semacam inilah yang kadang-kadang menjebak. Karena status akademik ditentukan lewat secarik ijazah, tidak jarang para mahasiswa hanya mengejar formalitas ini. Kualitas kesarjanaannya justru sering diabaikan. Akibatnya, tidak sedikit para sarjana yang gagap realitas manakala mereka harus terjun langsung ke masyarakat.

Sempitnya wawasan ilmu pengetahuan, mentalitas yang tidak kreatif, formalitas gelar-gelar akademik dan ijazah mengakibatkan para sarjana gagal ketika harus menjalankan peran di dalam masyarakat. Tidak sedikit sarjana yang ketinggalan wacana ilmu pengetahuan kontemporer. Amat banyak sarjana yang gagap terhadap realitas. Cukup banyak sarjana dengan gelar akademik dan ijazah harus menganggur. Menurut Muhammad Jauhari Ali (2007), kenyataan ini disebabkan karena para lulusan akademik atau perguruan tinggi masih memahami kesarjanaan sebatas gelar. Padahal, gelar-gelar akademik tidak banyak menjawab tantangan dunia kerja yang hanya membutuhkan tenaga-tenaga terampil dan kreatif.

Atas dasar inilah, pengertian sarjana jelas tidak dapat disetarakan lagi dengan intelektual. TB. Bottomore, sebagaimana dikutip Azumardi Azra (1999), memasukkan para sarjana sebagai kelompok intelegensia. Menurut TB. Bottomore, kaum intelegensia adalah orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan di universitas atau perguruan tinggi dan mengantongi ijazah akademik tertentu untuk kemudian secara sah dapat menyandang gelar tertentu pula.

Intelektual
Siapakah sebenarnya kaum intelektual? Menurut TB. Bottomore (1964), kaum intelektual adalah sekelompok kecil dalam suatu masyarakat yang kehadiran mereka mampu memberikan kontribusi kepada pembangunan, transmisi, dan kritik gagasan. Kriteria kaum intelektual tidak dibatasi oleh gelar-gelar akademik atau perolehan ijazah di perguruan tinggi. Mereka bisa berasal dari berbagai latarbelakang keilmuan dan status sosial.

Seorang intelektual tidak harus berlatarbelakang pendidikan tinggi yang mengantongi ijazah akademik tertentu. Latarbelakang keilmuan dan status sosialnya juga bisa bermacam-macam. Seorang intelektual berperan aktif dalam masyarakat mengusung ide-ide pembaruan. Kehadirannya dalam masyarakat senantiasa bermanfaat, bukannya malah menjadi beban.

Kita dapat mengambil beberapa contoh untuk figur intelektual. Misalnya sosok Emha Ainun Najib. Menurut hemat penulis, dia adalah seorang intelektual, bukan intelegensia. Cak Nun—demikian sapaan akrabnya—tidak mengantongi ijazah akademik. Akan tetapi, dia mampu memberikan penyadaran terhadap masyarakat atas berbagai persoalan yang dihadapi oleh bangsa ini. Sosok Iip Wijayanto juga dipandang sebagai tokoh intelektual, bukan seorang intelegensia. Sebab, dia memang tidak mengantongi ijazah akademik, sekalipun konon pernah kuliah. Akan tetapi, Iip mampu menyadarkan masyarakat ketika meneliti pergaulan bebas para mahasiswa Yogyakarta yang amat memprihatinkan. Kita juga bisa mengambil contoh sosok almarhum Abdul Karim Amrullah (Hamka). Buya Hamka—demikian panggilan akrabnya—meskipun telah mendapat gelar profesor, namun beliau sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan formal alias tidak mengantongi ijazah akademik. Gelar profesornya justru diberikan oleh universitas Al-Azhar (Mesir) sebagai penghargaan sekaligus penghormatan atas penguasaan ilmu keagamaannya.

Setelah melihat problem yang dihadapi oleh para sarjana, maka status mereka jelas tidak layak disetarakan dengan kaum intelektual. Sebab, kaum intelektual adalah sekelompok manusia cerdas yang sangat gigih memperjuangkan idealisme. Seorang intelektual tidak mungkin berdiam diri melihat problem-problem yang dihadapi oleh bangsanya. Disebabkan karena kesibukan bergelut dengan idealisme dan kegigihan dalam merealisasikan gagasan, seorang intelektual jelas tidak mengenal kata “menganggur.”

semoga tulisan ini bisa memotivasi saya...

(sumber: copy paste dari http://www.lingkarstudy.com/utama/index.php?topic=259.0)

1 komentar:

  1. sangat menginspirasi, dan idealis!

    seorang sarjana juga harusnya bukan orang2 frustrasi yang berhenti untuk menyuarakan idealismenya, baik yg sesuai dgn disiplin ilmunya, maupun atas kesadarannya tentang kebobrokan dunia di sekitarnya...

    salam hangat

    BalasHapus

Cari

Loading